Berita Terkini

Agenda
Sejarah Militer Hadiri Bedah Buku Karya Jan Steenbeek Ungkap Perspektif Prajurit Belanda di Masa Revolusi Indonesia
Dipublikasikan : 2 minggu yang lalu Dilihat: 5


JAKARTA, 4 Juni 2026 — Kedutaan Besar Kerajaan Belanda menggelar acara bedah buku karya Jan Steenbeek pada Kamis (4/6). Dalam kegiatan tersebut, buku diperkenalkan oleh putra Jan Steenbeek yang hadir sebagai narasumber dan berbagi kisah mengenai proses penerbitan serta latar belakang penulisan buku tersebut.

Buku ini berisi perjalanan hidup Jan Steenbeek yang terdokumentasi melalui catatan harian yang ditulis sejak Agustus 1945 hingga pertengahan 1951. Meski mencakup rentang waktu yang cukup panjang, Steenbeek memberikan perhatian khusus pada periode April 1949 hingga 1950, ketika dirinya menjalani tugas sebagai bagian dari militer Belanda di Indonesia.

Melalui catatan hariannya, Steenbeek merekam pengalaman serta pandangannya selama bertugas di sejumlah wilayah, mulai dari Surabaya, Madiun, Bandung, hingga Batavia. Kumpulan catatan tersebut kemudian dihimpun dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Indië is een mooi land, maar men moet er niet als militair zitten” atau “The Indies is a Beautiful Country, but Not When You Are a Soldier”.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa judul buku tersebut diambil dari salah satu catatan pribadi Jan Steenbeek yang mencerminkan pandangannya terhadap pengalaman bertugas sebagai tentara Belanda di Hindia Belanda pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Ia juga mengungkapkan bahwa naskah buku ini pada awalnya merupakan bagian dari koleksi arsip keluarga yang tersimpan secara pribadi. Seiring berjalannya waktu, keluarga memutuskan untuk membuka catatan tersebut kepada publik agar dapat menjadi sumber sejarah yang lebih luas dan memberikan perspektif tambahan dalam memahami dinamika hubungan Indonesia-Belanda pada periode tersebut.

Melalui publikasi buku ini, keluarga Steenbeek berharap catatan personal yang ditulis dari sudut pandang seorang prajurit Belanda dapat memperkaya khazanah historiografi dan mendorong lahirnya dialog yang lebih beragam mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa revolusi Indonesia.